PEPS / OPINI / 10 OKTOBER 2026

Vietnam Melesat, Indonesia Jalan di Tempat

Anthony Budiawan — Managing Director PEPS

Perbandingan manufaktur ekspor Vietnam dan komoditas Indonesia

Ekonomi Vietnam melesat. Bukan kiasan, melainkan makna sebenarnya. Vietnam mengulang lintasan Singapura dan Korea Selatan, negara Asia yang tumbuh spektakuler hingga menjadi negara maju.

Ekonomi Vietnam tumbuh 9,95 persen pada kuartal III 2026, naik dari 8,81 persen di kuartal II dan 8,15 persen di kuartal I. Ekonomi Indonesia tertatih-tatih: 5,61 persen di kuartal I dan 5,29 persen di kuartal II. Vietnam tumbuh hampir dua kali lipat Indonesia, dan jaraknya melebar.

Selisih ini bukan sekadar selisih angka, tetapi mencerminkan selisih arah pembangunan ekonomi kedua negara.

Selama Januari–Agustus 2026, ekspor Vietnam mencapai 374,84 miliar dolar AS, naik 22,4 persen dari tahun lalu. Ekspor Indonesia hanya 193,64 miliar dolar AS, naik 4,74 persen. Ekspor Vietnam hampir dua kali lipat Indonesia, tepatnya 1,94 kali. Laju pertumbuhannya hampir lima kali lebih cepat. Dalam nilai nominal, tambahan ekspor Vietnam lebih dari tujuh kali lipat Indonesia: 69 miliar dolar AS versus 9 miliar dolar AS.

Struktur ekspor menjelaskan segalanya. Produk industri olahan mencapai 337,99 miliar dolar AS, atau 90,2 persen total ekspor Vietnam. Ekspor industri pengolahan Indonesia hanya 159,55 miliar dolar AS. Vietnam menjual barang jadi. Indonesia masih menjual komoditas dan turunannya.

Surplus perdagangan Indonesia pun rapuh. Dari surplus nonmigas 28,54 miliar dolar AS, sebesar 24,91 miliar dolar AS berasal dari lemak dan minyak nabati. Hampir seluruh surplus kita datang dari sawit. Di sisi lain, defisit migas sudah mencapai 21,29 miliar dolar AS. Lonjakan surplus Agustus pun bukan karena ekspor berakselerasi, melainkan karena impor turun.

Neraca perdagangan Vietnam berbeda sifatnya. Selama sembilan bulan, impor Vietnam naik 36,7 persen, melampaui ekspor yang naik 24,5 persen, sehingga defisit mencapai 19,42 miliar dolar AS. Defisit itu lahir dari impor bahan baku dan mesin untuk produksi. Surplus Indonesia datang dari menjual mineral dan sawit, sedangkan defisit Vietnam datang dari membangun industri. Keduanya tidak sebanding.

Kemiskinan

Indonesia berstatus negara berpendapatan menengah atas sejak 2023. Vietnam baru naik kelas pada 2025. Dengan garis kemiskinan internasional yang sama untuk keduanya, US$8,30 per hari (PPP 2021), 64,1 persen penduduk Indonesia tergolong miskin pada 2025, sekitar 183 juta orang. Di Vietnam hanya 18,7 persen. Penduduk miskin Indonesia lebih dari tiga kali proporsi Vietnam, padahal Indonesia sudah tiga tahun berstatus berpendapatan menengah atas dan Vietnam baru setahun.

Ironisnya, pendapatan per kapita Vietnam pada 2025, 5.066 dolar AS, sudah melampaui Indonesia yang 5.060 dolar AS. Selisihnya memang masih tipis, tetapi akan terus melebar. Rakyat Vietnam sudah lebih sejahtera daripada rakyat Indonesia.

Pertumbuhan 5 persen Indonesia, yang kebenarannya pun dipertanyakan banyak pihak, bukan prestasi. Pertumbuhan yang nyaris datar selama 12 tahun itu adalah jalan di tempat. Pertumbuhan yang bertumpu pada konsumsi dan komoditas tidak membangun industri, tidak menciptakan lapangan kerja bergaji layak, dan tidak mengangkat rakyat dari kemiskinan.

Vietnam memilih manufaktur berorientasi ekspor, dan hasilnya nyata: pertumbuhan mendekati 10 persen, ekspor melonjak, kemiskinan jauh lebih rendah. Indonesia memilih bertahan pada komoditas dan retorika, dan hasilnya stagnasi.

Selama kebijakan ekonomi hanya memuja angka pertumbuhan dan hilirisasi sempit, Indonesia akan terus disalip negara tetangga. Yang dibutuhkan adalah industrialisasi manufaktur berorientasi ekspor, kepastian hukum bagi investasi, dan ukuran keberhasilan yang berpijak pada kesejahteraan rakyat.

← Artikel sebelumnya: Utang Naik, Rupiah Tertekan, BI Kembali Menjadi Mesin Utang Luar Negeri

Artikel berikutnya: IHSG Jatuh, Peringatan MSCI Terbukti →

← Kembali ke Opini